"Sepanjang Jalan Cintaku"
Ternyata
perjalanan hidup itu begitu berliku. Saudara pembaca.. kutulis kisah cintaku
ini untuk meringankan beban perasaan dalam diriku, semoga ceritaku ini juga
berguna bagi rekan pembaca..
Aku adalah seorang wanita yang bisa dikatakan berpenghasilan lumayan
untuk sekedar membantu biaya masa depan sebuah keluarga. Masalahku adalah,,,
pasangan hidupku.
Cerita cintaku mulai berawal ketika aku kuliah di sebuah
universitas, tahun pertama aku kuliah aku menjalin kasih dengan seorang pria
yang tak lain adalah senior di kampusku. Dua tahun kami pacaran, semuanya
berjalan indah. Bukan hanya terlihat sebagai pasangan yang romantis tapi juga
penuh canda, sering aku membayangakan kehidupanku kelak akan bahagia
bersamanya.
Setelah wisuda, dia melamar pekerjaan diluar kota, dengan berat
hati aku mengantar kepergianya, berbekal janjinya yang akan setia, aku selalu
merindunya.
Setahun berlalu, komunikasi kami berangsur memburuk, berawal
dari alasanya yang sibuk di tempat kerja, sampai akhirnya aku kehilangan
kontak. Aku mulai putus asa dan sangsi dengan janji setianya, tapi aku masih
tetap berharap suatu saat dia akan pulang, kembali ke pelukanku.
Harapan hanya tinggal harapan, tepat di hari jadi kami, aku
menerima undangan pernikahannya. Bagai disambar petir, aku tak mampu berucap,
hanya air mata yang mengalir, mewakili betapa kecewa dan marahnya aku.
Kehidupanku terasa hampa, sakit,,, dan yang lebih menusukku, kulihat namanya
bersanding dengan nama yang tak asing ditelingaku, nama adik kelasku semasa
sma.
Aku hanya bisa terisak, namun aku sadar,, aku tak boleh mati
percuma hanya karena satu orang lelaki,,, akupun bangkit melihat luasnya dunia
yang belum aku jelajahi..
Cukup lama aku menutup hatiku, sampai aku menemukan perkerjaanku
yang sekarang, sekaligus lembaran baru pahitnya perjalananku. Setelah tiga
bulan aku bekerja di kantorku, rekan kerjaku mengenalkanku dengan rekan
kerjanya di perusahaan lain.
Kuterima masukan rekanku yang mengatakan “sudah
cukup kau menyiksa dirimu sendiri, kini saatnya kamu mencari kebahagiaan, karna
ia tak akan datang jika kamu tak meraihnya”.
Dwi, begitulah lelaki itu mengenalkan dirinya, awal kenalan kami
hanya berkomunikasi lewat telpon, sampai kami sepakat untuk bertemu di sebuah
restoran. Awal pertemuan, kunilai orangnya lumayan ganteng, dengan postur yang
tidak mengecewakan, pribadinya kalem, bawaanya tenang dan sopan. Dan tanpa aku
bisa mengelak, aku mulai menyukainya.
Setelah pertemuan itu, kami makin sering bertemu dan diapun
rajin menelpon untuk sekedar memastikan telah makan siang atau sekedar
menanyakan keadaanku. Sungguh lelaki yang sempurna, bathinku. Tiga bulan
berlalu, kamipun resmi pacaran. Masa itu berjalan dengan indah, bawaanya yang
tenang membuatku yang cepat emosi menjadi lebih tenang. Pantai adalah tempat
favoritnya, dan dengan segera juga menjadi tempat favoritku. Kami banyak
menghabiskan waktu di pantai, menikmati sepoian angin pantai yang menemani
kebersamaanku.
Enam bulan menjalin hubungan ini, dia berniat mengajakku ke
hubungan yang bukan hanya sekedar untuk pacaran. Akupun setuju, dengan
pertimbangan yang matang, kamipun memutuskan untuk bertunangan. Aku dikenalkan
dengan orang tuanya. Kedatanganku di sambut ramah, keluarganya begitu hangat.
Aku merasa bahagia berada di tengah keluarganya, orangtuanya menganggap aku ini
anak mereka sendiri, begitupun adik perempuanya, dengan cepat ia akrab
denganku. Obrolan demi obrolanpun mengalir, tentang diriku dan keluargaku.
Pilupun ternyata belum melepasku, manakala aku menangkap tatapan
yang aneh dari calon ibu mertuaku saat aku menyebutkan tanggal lahirku. Aku
mulai merasa ada yang aneh, seketika aku gugup lalu melirik ke arah Dwi, namun
aku tak menemukan jawabannya.
Dengan pandangan mata yang tak melepaskanku, ibunya berkata
kalau aku tak bisa dan tak boleh menikah dengan putra satu-satunya. Aku yang
masih kebingungan, menatap ke arah ayahnya, ayahnyapun mulai menjelaskan dengan
suara yang tegas. Kehangatan yang aku terima sedari tadi berubah menjadi hujan
badai yang membasahi pipiku. Setiap kata dari ayahnya bagai petir yang
memekakkan telingaku.
Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya bisa terisak di punggung
pacarku, aku mulai mencaci Tuhan dengan hidupku yang aku rasa tak adil. Sebelum
aku masuk ke rumah, kupeluk erat pacarku, seakan aku tak ingin dia pergi dari
sisiku. Dan kecupan hangat di dahiku sebagai bekalku malam ini. Kasur tempat
badanku rebah serasa tebuat dari duri, duri yang mencabikku,membuatku berdarah.
Perkataan ayahnya yang mengatakan tanggal lahirku akan menjadi angka sial untuk
anaknya terngiang keras ditelingaku.
Runtuh semua harapan yang aku bangun. Pilu yang telah terkubur
lama, seakan bangkit lagi, mengikat hatiku dan memerasnya, hingga yang tersisa
hanya puing. Mengingat semua tentangnya, masaku dengannya, candaku dengannya,
manjaku, dan tenang nasehatnya membuatku merasa kehilangan segalanya. Terngiang
di telingaku “suatu saat, jika kau
merindukanku, datanglah ke pantai,, aku akan memelukmu dalam setiap sepoi
angin, mengahangatkan dengan segenap mentari dan menopangmu bagai batu karang “.
Hanya air mata yang menemani sepanjang malam itu. Setelah malam
itu, kami makin jarang bertemu, komunikasipun makin tipis. “sungguh aku tak sanggup
hidup dengan kehampaan kita ini” jelasku
pada suatu malam saat kami makan malam bersama.
“Aku pun tak pernah bisa memilih antara cinta dan keluargaku,
dua hal yang takkan perbah bisa kupilih”, jawabnya.
“Aku takkan pernah memintamu memilih, aku juga tak mau dipilih,
aku mencintaimu, aku ingin kamu bahagia, aku relakan kau untuk keluargamu, aku
hanya berpesan, carilah seorang wanita yang jauh lebih baik dari aku, agar aku
tak merasa kecewa telah melepasmu“ kataku sambil terisak.
“Aku tak pernah menyangka kita akan berakhir seperti ini,
mungkin aku lelaki yang lemah karena tak bisa memperjuangkan cintaku, tapi aku
juga tak mau mengecewakan ibuku. Aku sangan mencintaimu, satu janjiku padamu,
aku takkan pernah meninggalkanmu. Aku akan menikah setelah kamu menikah.”
Tanpa bisa lagi kubendung, air mataku meluncur deras. Tangan
halusnya untuk terakhir kalinya menyapu pipiku, dengan penuh arti dia kecup
keningku, aku merasakan keningku basah, dia menangis,,,, dia menangis,,,” aku
akan merindukan kecupan ini” bathinku,, kosong sudah hatiku sekarang,, dua kali
kepiluan telak melukaiku dan membuatku ambruk.
Tapi hidup terus berjalan, sejak perpisahan kami,, Dwi masih
sering menghubungiku, sekedar menanyakan kabarku, hubungan kami berlanjut
layaknya kakak dan adik.
Setahun aku belajar bahagia dengan kesendirianku, sampai
akhirnya seorang teman mengenalkan temannya kepadaku, akupun mencoba membuka
hatiku. Vicky, itu nama pemuda itu,walau kami hanya berkomunisi jarak jauh, tapi
aku mulai nyaman dengan sikapnya.
Vicky yang seorang anggota polri tengah berdinas disuatu
provinsi terpencil. Sebulan berlalu, aku dan Vicky, mulai memulai hubungan
kami. Walau hanya lewat telpon dan video call, kami bisa saling mengerti. Dwi
yang tau tentang hal ini turut bahagia, walau ku tahu sampai sekarang dia masih
belum membuka hatinya untuk orang lain.
Enam bulan aku dan Vicky pacaran, tiba saatnya dia cuti dan
mengunjungiku. Kami akan bertemu untuk yang pertama kalinya, setelah enam bulan
pacaran. Cukuran cepak , perawakan tegap dan baju dinasnya membuatku kikuk dan
grogi, namun semua luntur oleh senyum dan candanya sepanjang perjalan dari
bandara kerumahnya.
“Ternyata polisi itu juga bisa pacaran dan bercanda” gumamku dalam hati. Kepulangan saat cuti ini dia manfaatkan
untuk mengenalkan aku dengan keluarganya. Keluarganyapun tak kalah hangatnya
dengan keluarga Dwi. Dua adik laki-laki dan kakak perempuanya menerimaku dengan
ramah.
Tepat di hari ulang tahunku, kami resmi bertungangan. Masa cutinyapun
habis tanpa terasa, dan saatnya dia harus kembali ke tugasnya. Dengan berat
hati aku mengantarnya ke bandara. Hubungan kami berjalan baik, namun aku merasa
tidak nyaman dengan sikap cemburunya yang berlebihan. Banyak larangan yang aku
terima darinya, termasuk keluar bersama dengan rekan sekantorku yang biasanya
untuk merayakan sesuatu. Pertama-tama aku masih bisa mengalah, namun lama
kelamaan dia semakin mengekangku, aku mulai tak tahan.
Dalam kekalutanku datanglah sosok rekan kantor, Beni. Dia prihatin
dengan nasibku saat aku ceritakan tentang pacarku. Entah dari mana hembusan itu
datang, sikap prihatin Beni membuatku nyaman, dan mulailah aku sering mengeluh
kepadanya dibarengi seringnya aku mulai jalan berdua dengan Beni yang tentunya
dengan kebohongan kepada Vicky.
Aku memberi seribu alasan kepada Vicky saat aku sedang bersama
Beni. Namun benar kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melonpat, pasti akan
jatuh juga. Di suatu malam, saat aku sedang asyik makan malam bersama beni, aku
dikejutkan dengan sapaan seorang lelaki.
Kupandangi wajah lelaki itu dan serasa menelan beling, aku
ingat,,, lelaki ini adalah adik dari Vicky. Berusaha tenang aku mengenalkan
Beni dengan dia sebagai klien di kantorku.
“ya memang aku keluar dengan lelaki lain, memang kenapa? Tidak
trima? Ya sudah,, putuskan saja aku,, kita berakhir disini..!” Bentakku saat dia menelpon dan menanyakan tentang pengaduan
adiknya.
“hey,, kenapa kamu ini,, mudah sekali kamu berucap,, apa kamu
tidak berfikir betapa aku memujamu? betapa aku memanjakanmu? betapa aku
menyayangimu?” Sahutnya di
seberang
“Sayang?? Sayang apa?? Kalau kau benar-benar sayang, kenapa kau
selalu mengekangku?melarangku ini itu, kau tak pernah yakin padaku” jawabku
emosi. “Aku
begitu karena ingin menjagamu aku tak mau kamu berpaling kepada orang lain
hanya karena aku jauh darimu,,” jelasnya.
“Tidak,, kamu tidak sayang, tapi egois, dan tidak percaya
padaku. Aku mencintaimu,, tapi aku tidak pernah melakukan hal bodoh seperti yang
kamu lakukan,, pokoknya saya minta kita putus,, berakhir kita disini,,,” dan
akupun memutuskan telponya.
Dia menelpon berkali-kali serta mengirimiku sms,, tapi tidak
pernah aku balas. Sekian lama aku bertahan, akhirnya tiba saatnya aku berontak.
Bersamaan dengan itu, aku juga memutuskan hubungan dengan Beni dan mulai
menghindarinya. Enam bulan berlalu, tanpa sengaja aku bertemu lagi dengan Vicky
di sebuah tempat makan, tanpa bisa mengelak, dia mengajakku makan bersama.
Jujur, aku mulai merasakan cintaku tumbuh kembali, dan
belakangan aku tahu kalau dia sudah pindah tugas ke kotaku. Pertemuan malam itu
ternyata berlanjut ke malam berikutnya, tanpa terelakkan kami berpacaran
kembali. Aku mulai terbiasa dengan sikap cemburunya, dan sikap egoisnya.
Terkadang aku sadar, kalau aku mencintainya, aku harus mengalah,
tapi terkadang aku tak bisa mengontrol emosiku dan kamipun sering bertengkar.
Nasib baik kemudian menyapaku, perusahaan tempat aku berkerja
memilihku sebagai salah satu orang yang akan berangkat ke luar negeri untuk
urusan perusahaan selama 4 bulan.
Awalnya Vicky tidak setuju dengan ini, tapi karena aku berkeras,
dia akhirnya mengalah. Satu bulan pertama hubunganku berjalan baik, dua hari
sekali aku menelpon dia, dan di setiap malamnya kami berbincang melalui salah
satu fasilitas web. Masih tetap dengan sikap cemburunya, tak terhindarkan kami
makin sering bertengkar. Makin runcing dan makin rapuh kurasa hubungan kami.
Awalnya hubunganku dengan rekan kerja berlangsung baik sampai
akhirnya aku terperosok ke lubang gelap. Aku mulai akrab seorang karwayan dari
perusahaan lain yang juga tergabung dalam program perusahaanku. Alan, itu
namanya. Kedekatan yang berawal dari masalah kerjaan itu berlanjut tumbuh di
hati. Entah bagaimana awalnya, kamipun mulai menjalin kasih. Meski aku tahu dia
sudah beristri dan ayah dari seorang balita, tapi aku tak bisa melarang hatiku.
Tanpa terasa dua bulan kami lalui dengan manis, kami sepakat
untuk menjadikan masa kami disini hanya milik kami, tanpa saling mengungkit
tentang pasangan masing-masing. Sia yang tahu sikap Vicky yang cemburuan
menyayangkan kenapa aku tak bertemu dengan dirinya sebelum ia menikah.
Dia juga menceritakan perihal istrinya yang selalu bersikap
dingin dan cuek kepadanya, seolah-olah suami istri hanya sebatas ikatan resmi.
Namun Alan bertahan dengan sabar terhadap istrinya demi sang buah hati, ia tak
pernah menyangka pilihannya kepada wanita pendiam yang tidak banyak menuntut
mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri.
Dia merasa jenuh dengan kehidupan berumah tangganya sekarang
yang dingin.
Sebulan sebelum kepulanganku, aku mulai dilanda kebingungan. Aku sadar Alan
bukanlah pilihan terbaik dalam hidupku, termasuk bukan jalan yang baik untuk
keluarganya. Aku berniat mengakhiri ini semua.
“Alan, terimakasih atas semua waktu yang kamu berikan,tapi kita
tidak bisa terus terusan begini. Aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana
kalau aku yang di posisi istrimu.pasti aku hatiku akan sangat hancur.”
“Maafkan aku yang datang pada saat dan waktu yang tidak tepat ke
dalam hidupmu, meski kau hanya kumiliki dalam cermin,tapi kau tahu betapa aku
mencintaimu melebihi istriku sendiri.”
“Aku tak mau lebih banyak lagi menyakiti hati istrimu. Kita
akhiri saja ini semua.“
“kalau itu memang keputusanmu, aku terima. Tapi kalau suatu saat
kamu berubah pikiran dan menginginkan aku, datanglah, aku akan menceraikan
istriku. Sekarang hidupku sama sekali tak ada artinya. Istriku hanya hiasan
rumah yang tiada memberi kehangatan. Aku tak kuat lagi membohongi diriku dan
dirinya dengan cinta palsuku.”
“walaupun demikian, kau telah memilkiki seorang putra dari
hubunganmu. Kau pernah berucap cinta padanya, berjanji tuk setiapadanya.”
“iya,aku akui itu,tapi itu hanya kekhilafanku karena patah hati
dengan perempuan lain”
“sudahlah,,aku
tak mau berdebat, sudah malam aku mau istirahat” jawabku sambil berlalu dari
hadapannya.
Sejak malam itu, hubungan kami terjaga hanya sebatas rekan
kerja. Meski terkadang aku mendapatinya sedang menatap ke arahku dengan penuh
makna, aku berusaha menampiknya. Sementara hubunganku dengan Vicky masih tidak
berubah, sikapnya yang cemburu tiada pernah berubah.
Dua minggu sebelum pulang ke tanah air, aku pergi ke sebuah
tempat wisata yang lumayan terkenal saat musim panas. Kuhela nafasku, mencoba
berbagi beban dengan hembusan angin sore. Riuh ombak di pinggir pantai ini
membawa kembali ingatanku pada Dwi. Ku ambil ponselku lalu kutumpahkan segala
tangisku di sela nasehat teduhnya.
“oh,, Tuhan,,
kapan ini akan berakhir,,,”
***

Komentar
Posting Komentar