Penyesalan Yang Tak Tertepi





(Romantika Kehidupan ini diceritakan kembali oleh Helmi Putra, S.Sos)



Sepasang suami istri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu orang tuanya bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sebut saja namanya Dita. Ia sendirian dirumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya bermain sendiri karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

 Suatu hari Dita melihat sebatang paku karat. Dan iapun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya, karena mobil itu berwarna gelap, maka coretanya tak tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreatifitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ketempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih kesebelah kiri mobil. Dibuat gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikuti imajinasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh sipembantu rumah.

 Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami-istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran ansuran yang masih lama lunasnya. Bapaknya yang belum lagi masuk ke rumah inipun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini? Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia mengatakan “saya tidak tahu…tuan. “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yang kamu lakukan?” hardik si istri.
Dita yang mendengan suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yang membuat gambar itu ayah! Cantik kan? “katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasanya.

 Ayahnya yang sudah habis kesabaranya mengambil sebatang kecil ranting bunga yang berduri di depan rumahnya, terus dipukulkanya berkali-kali ke telapak tangan Dita. Dita yang tak mengerti apa-apa menangis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, siayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan ibunya Cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.

 Pembantu rumahnya terbengong, tidak tahu harus berbuat apa. Bapaknya cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian berganti ke tangan kiri anaknya. Setelah puas, bapaknya masuk kerumah diikuti ibunya. Pembantu rumahnya mengendong Dita dan terus membawanya ke kamar.

 Dita terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan Dita luka-luka dan berdarah. Pembantu rumahnya kemudian memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, iapun ikut menangis melihat Dita yang menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu pembantu rumahnya menidurkan Dita. Ayahnya sengaja membiarkan Dita tidur bersama pembantu rumahnya. Keesokan harinya, kedua belah tangan Dita bengkak. Pembantu rumahnya mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab ayah Dita.

 Pulang dari kerja, ayah Dita juga tidak memperhatikan Dita. Dita hanya menghabiskan waktu di kamar pembantunya. Ayahnya konon mau memberi pelajaran pada anaknya.
Tiga hari berlalu, bapaknya tidak pernah menjenguk Dita. Sementara ibunya juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumahnya. “Dita demam, Bu?’ kata pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja,” jawab ibunya.

 Sebelum ibunya masuk kamar tidur, ibunya menjenguk Dita dulu kekamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumahnya, ibunya menutup lagi pintu kamar pembantunya.
Meski hari keempat, pembantu rumahnya memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap,”kata majikannya.
Sampai saatnya Dita yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa kerumah sakit karena keadaannya sudah serius.

 Setelah beberapa hari dirawat inap dokter memanggil ayah dan ibu Dita. “Tidak ada pilihan,”kata dokter tersebut.
Dokter mengusulkan agar kedua tangan Dita dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut. “Ini sudah bernanah.”Demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku kebawah,”kata dokter itu.

 Orang tua Dita bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yang dapat dikatakan lagi.
Ibunya meraung-raung sambil merangkul Dita. Dengan berat hati ayah Dita menandatangani surat persetujuan pembedahan dengan tangan yang bergetar. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikan habis, Dita menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumahnya.

 Dita mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan tangis, Dita bersuara dalam linangan air mata. “Ayah, ibu Dita tidak melakukanya lagi. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi. Dita sayang ayah. Dita sayang ibu. “katanya berulang kali. Dita juga sayang Mbok Narti, “katanya sambil memandang wajah pembantu rumahnya sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

 “Ayah, kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi. Bagaimana caranya Dita mau makan nanti? Bagaimana Dita mau bermain nanti? Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil ayah lagi, “katanya berulang-ulang.
Serasa hancur hati ibunya mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat merobahnya. Nasi telah jadi bubur. Pada akhirnya sianak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf.
Tahun demi tahun kedua orangtua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihan dan wafat diiringi tangis penyesalannya yang tak bertepi.

Namun sianak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya.

Atau mau mau lihat Videonya !!!



Atau mau mau lihat Videonya !!!


*************
By. Handira Cinta Sejati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

4 Langkah Memulai PDKT

Memahami Rancangan Alloh SWT

10 kunci kebijaksanaan cinta